wajah di cermin
wajahmu
wajah nasibmu wajah hidupmu
wajah di cermin
wajahmu
wajah sejarahmu wajah usulmu
wajahmu
wajah di cermin
pelita ke dalam gelap dirimu
cahaya ke dalam tasik bantinmu
wajahmu
wajah di cermin
sering bercerita padamu
tentang palsu benarmu
pernahkah kau bertanya
wajah yang kaubawa
adakah wajahmu
seperti di cermin itu
atau sememangnya
segalanya lebih palsu
sesekali, kembalilah ke cermin itu
ambillah wajahmu
Monday, February 1, 2010
Saturday, December 12, 2009
Saturday, December 5, 2009
doa ketika hujan
- kepada yang mengerti
i.
anak-anakku duduk di hujung tangga
memerhati hujan yang beralun mendendangkan suara basah
musim tengkujuh
anak-anakku duduk memerhati
alir air yang berkumpul menjadi lopak besar
lopak harapan lopak masa depan
berpuluh hari aku tidak mendaki bukit
memasuki kebun getah
tiba-tiba menjadi penganggur di tengah redup musim
terasa rintik hujan seperti pusau menikam
esok lusa persekolahan bermula
manakah baju manakah kasut mereka, tanya isteriku perlahan
dan suara itu hampir tenggelam diramas suara hujan
sedang di atas rumah masih ada yang meminta susu
mencuri ubi rebus
mereka anak-anakku kelaparan dibalut hujan
esok, apakah hujan akan berhenti
dan mentari menyinari
aku hanya berdoa di celah lebat hujan
berikanlah aku waktu memasuki kebun getah
demi susu sepatu dan baju sekolah anak-anakku
demi lopak harapan mereka
janganlah sekeruh air itu
tak siapa datang bertanya
atau berhenti memerhati
bagaimana kami memanaskan nasib
di bawah serkup tengkujuh
bukan seperti tahun-tahun dulu
ada saja yang datang bertamu, membawa senyum
dan kampit beras
ini sedekah, kata mereka
dan isteriku senyum menatap mukaku
rupa-rupanya sehabis hujan berhenti
ada pilihanraya
mereka datang lagi dengan senyum dan tangan terbuka
mereka datang membawa sepatu dan baju
mereka datang membawa gambar dan poster
mereka datang agar aku dan isteriku dapat menyelematkan
nasib mereka
hujan bertalu menghimpit
langit digulung awan dan kabut
pastinya tak akan ada yang mahu bertanya
tak akan ada yang mahu melihat
mereka sudah meratah gulai kemenangan
mata meliar kepala mengangguk tersenyum takjub
"menang besar", kata kawanku di kedai kopi
aku hanya senyum
kerana kopiku minum kubayar sendiri
ii.
apakah aku hanya mampu berdoa
mengeringkan nestapa
atau inilah musim-musim cabaran
hidup sebagai petani, kecil, dan terpencil
suara dan diriku hanya menjadi penyelamat
nasib dan kuasa mereka
tanpa pisau penoreh dan kebun getah
anak-anakku bakal terhumban
ke selat keciciran ke tasik kegagalan
rupa-rupanya hujan kali ini bukan aku sahaja yang berdoa
di celah hujan di celah bingit air
merekapun membuka suara berdoa dan berdoa
selamatkan kuasa dan kedudukan
selamatkan pengaruh dan pengikut
selamatkan masa depan
apakah mereka lebih nestapa dari nasibku
menggelapar dalam goda kuasa rencat pengaruh
dan kali ini mereka benar-benar merasa sakitnya hujan
beratnya awan dan bimbang segala topan dan gelora melanda
sakitnya hujan
sudah kurasakan bertahun-tahun
beratnya topan dan gelora sering menjamah jantung isteri dan
anak-anakku
dan doa mereka kali ini berat dan asyik sekali
mengharap turunnya kesenangan
meminta datanglah mentari cerah menjilat air
nestapalah mereka yang ingkar
mengurung kekayaan milik rakyat
sakitnya hujan kali ini
singgah di jantung singgah di urat nadi mereka
iii.
anak-anakku masih duduk di hujung tangga
melihat hujan melihat kolam air
alangkah baiknya dalam doa mereka
meminta hujan berakhir dan panas menjelma
agar aku dapat turun ke kebun
menyusun harapan bagi anak-anakku
menjelang tahun baru
alangkah baiknya, mereka berdoa
selamatkanlah aku dan teman-teman
yang saban tahun di bawah tengkujuh
menghitung luka dan derita
apakah dalam doapun
aku ini tidak bermakna untuk mereka?
cuma ketika pilihanraya tiba mereka datang meminta-minta
menyelamatkan nasib dan kuasa mereka
aku dan isteriku
serta teman-temanku
siapakah kami di mata hati
di mata fikirmu
alangkah...
i.
anak-anakku duduk di hujung tangga
memerhati hujan yang beralun mendendangkan suara basah
musim tengkujuh
anak-anakku duduk memerhati
alir air yang berkumpul menjadi lopak besar
lopak harapan lopak masa depan
berpuluh hari aku tidak mendaki bukit
memasuki kebun getah
tiba-tiba menjadi penganggur di tengah redup musim
terasa rintik hujan seperti pusau menikam
esok lusa persekolahan bermula
manakah baju manakah kasut mereka, tanya isteriku perlahan
dan suara itu hampir tenggelam diramas suara hujan
sedang di atas rumah masih ada yang meminta susu
mencuri ubi rebus
mereka anak-anakku kelaparan dibalut hujan
esok, apakah hujan akan berhenti
dan mentari menyinari
aku hanya berdoa di celah lebat hujan
berikanlah aku waktu memasuki kebun getah
demi susu sepatu dan baju sekolah anak-anakku
demi lopak harapan mereka
janganlah sekeruh air itu
tak siapa datang bertanya
atau berhenti memerhati
bagaimana kami memanaskan nasib
di bawah serkup tengkujuh
bukan seperti tahun-tahun dulu
ada saja yang datang bertamu, membawa senyum
dan kampit beras
ini sedekah, kata mereka
dan isteriku senyum menatap mukaku
rupa-rupanya sehabis hujan berhenti
ada pilihanraya
mereka datang lagi dengan senyum dan tangan terbuka
mereka datang membawa sepatu dan baju
mereka datang membawa gambar dan poster
mereka datang agar aku dan isteriku dapat menyelematkan
nasib mereka
hujan bertalu menghimpit
langit digulung awan dan kabut
pastinya tak akan ada yang mahu bertanya
tak akan ada yang mahu melihat
mereka sudah meratah gulai kemenangan
mata meliar kepala mengangguk tersenyum takjub
"menang besar", kata kawanku di kedai kopi
aku hanya senyum
kerana kopiku minum kubayar sendiri
ii.
apakah aku hanya mampu berdoa
mengeringkan nestapa
atau inilah musim-musim cabaran
hidup sebagai petani, kecil, dan terpencil
suara dan diriku hanya menjadi penyelamat
nasib dan kuasa mereka
tanpa pisau penoreh dan kebun getah
anak-anakku bakal terhumban
ke selat keciciran ke tasik kegagalan
rupa-rupanya hujan kali ini bukan aku sahaja yang berdoa
di celah hujan di celah bingit air
merekapun membuka suara berdoa dan berdoa
selamatkan kuasa dan kedudukan
selamatkan pengaruh dan pengikut
selamatkan masa depan
apakah mereka lebih nestapa dari nasibku
menggelapar dalam goda kuasa rencat pengaruh
dan kali ini mereka benar-benar merasa sakitnya hujan
beratnya awan dan bimbang segala topan dan gelora melanda
sakitnya hujan
sudah kurasakan bertahun-tahun
beratnya topan dan gelora sering menjamah jantung isteri dan
anak-anakku
dan doa mereka kali ini berat dan asyik sekali
mengharap turunnya kesenangan
meminta datanglah mentari cerah menjilat air
nestapalah mereka yang ingkar
mengurung kekayaan milik rakyat
sakitnya hujan kali ini
singgah di jantung singgah di urat nadi mereka
iii.
anak-anakku masih duduk di hujung tangga
melihat hujan melihat kolam air
alangkah baiknya dalam doa mereka
meminta hujan berakhir dan panas menjelma
agar aku dapat turun ke kebun
menyusun harapan bagi anak-anakku
menjelang tahun baru
alangkah baiknya, mereka berdoa
selamatkanlah aku dan teman-teman
yang saban tahun di bawah tengkujuh
menghitung luka dan derita
apakah dalam doapun
aku ini tidak bermakna untuk mereka?
cuma ketika pilihanraya tiba mereka datang meminta-minta
menyelamatkan nasib dan kuasa mereka
aku dan isteriku
serta teman-temanku
siapakah kami di mata hati
di mata fikirmu
alangkah...
Tuesday, December 1, 2009
gerbang gelora
gerbang gelora
bermula dari muara menerjah hulunya
airnya berpusar dari lidah kesombongan
kesempurnaan apakah yang dijelirkan dari lidah berpintal
menyemai kebencian menghembus nafas busuk gelora
apakah yang dapat dituai dari ucap nista
hanya membesarkan kotak keretakan
kesempurnaan apakah yang dijilat dari lidah bercabang
kaulelehkan liur cemar
kau siapa sebenarnya
gerbang gelora
bermula dari retaknya petak-petak kuasa
memanggil diri penakluk
apakah yang kaukumpul dari segala kemenangan
sedang kehidupan dimabukkan dongeng negeri tercantik kota pelangi
sedang kehidupan bergelimpangan kesempitan dan kepayahan
kau penakluk
mampu ketawa atas luka dan sakit
manusia
anehnya, mereka pula tidak mengerti luka dan sakit itu
dari manakah bermula
marilah berjalan ke tanah jauh di pelosok tanjung
marilah berhenti menari
berjalanlah dengan kaki dan matamu
tanggalkan jubah kebangaan dan buangkan sepatu keasyikan
rasailah sejuk tanah musim hujan
atau garingnya di bakar kemarau
tataplah keperitan yang meniti dari lembah ke bukit
sedang kauhanya melabuhkan suara
membaca dogeng belulang :
ranapkah kejahatan si pemabuk kuasa
rawana pedusta, akulah rama bersama busar keramat
menyelamatkan sita dari godaan hitam kejahatan
jauhilah bendera maut yang dipasang rawana
mampirlah, berdiri di bawah bayang pohon cinta rama
berdirilah menyelamatkan sita cinta kita
peduli apa musnahnya taman dan pohon-pohon hijau
aku sedang memanah rawana
jangan hampiri bendera darah rawana
ke mari ke bawah pohon cinta rama
kautak akan musnah
biar rawana berlumur tanah
ah, tahun yang segar
hidup yang menggelepar
mereka hanya berdiri menanti
luruhlah daun dari pohon
luruhlah....
tahun yang menjalar
menanti dan menanti
gerbang gelora
berputarlah
bawakan awan sejahtera
menitiskan hujan bahagia
bermula dari muara menerjah hulunya
airnya berpusar dari lidah kesombongan
kesempurnaan apakah yang dijelirkan dari lidah berpintal
menyemai kebencian menghembus nafas busuk gelora
apakah yang dapat dituai dari ucap nista
hanya membesarkan kotak keretakan
kesempurnaan apakah yang dijilat dari lidah bercabang
kaulelehkan liur cemar
kau siapa sebenarnya
gerbang gelora
bermula dari retaknya petak-petak kuasa
memanggil diri penakluk
apakah yang kaukumpul dari segala kemenangan
sedang kehidupan dimabukkan dongeng negeri tercantik kota pelangi
sedang kehidupan bergelimpangan kesempitan dan kepayahan
kau penakluk
mampu ketawa atas luka dan sakit
manusia
anehnya, mereka pula tidak mengerti luka dan sakit itu
dari manakah bermula
marilah berjalan ke tanah jauh di pelosok tanjung
marilah berhenti menari
berjalanlah dengan kaki dan matamu
tanggalkan jubah kebangaan dan buangkan sepatu keasyikan
rasailah sejuk tanah musim hujan
atau garingnya di bakar kemarau
tataplah keperitan yang meniti dari lembah ke bukit
sedang kauhanya melabuhkan suara
membaca dogeng belulang :
ranapkah kejahatan si pemabuk kuasa
rawana pedusta, akulah rama bersama busar keramat
menyelamatkan sita dari godaan hitam kejahatan
jauhilah bendera maut yang dipasang rawana
mampirlah, berdiri di bawah bayang pohon cinta rama
berdirilah menyelamatkan sita cinta kita
peduli apa musnahnya taman dan pohon-pohon hijau
aku sedang memanah rawana
jangan hampiri bendera darah rawana
ke mari ke bawah pohon cinta rama
kautak akan musnah
biar rawana berlumur tanah
ah, tahun yang segar
hidup yang menggelepar
mereka hanya berdiri menanti
luruhlah daun dari pohon
luruhlah....
tahun yang menjalar
menanti dan menanti
gerbang gelora
berputarlah
bawakan awan sejahtera
menitiskan hujan bahagia
Tuesday, September 29, 2009
bunga negara
bunga negara
menjadi kuntum harapan rakyat
kala dukalara cahayanya memancar serbat kesegaran
memadamkan titik luka menetaskan garis sentosa
kala bahagia sinarnya memintal tali makmur
tenggelamlah kesangsian bangunlah pohon sentosa
tambatkan sauh kesegaran di segenap pelabuhan rasa
kala sepi geraknya muzik merdu mengalunkan seribu dengung
meratah kepayahan menindih kesempitan
segala yang rebah dan resah bangkit dengan gema bahagia
kala riuh derap kuntumnya melegakan kebingitan
mengembalikan segar semangat dan jernih sedar
tidak alpa atau manakah tanah asal dan air mula
inilah kuntum impian rakyat
di kampung di kota
di teluk di belantara
di tasik di sungai
di awan di laut dalam
berseri di segenap sukma
alangkah, kepayahan mengalir hilang
kesenangan merangkak tiba
bunga negara
yang tidak meletihkan akal memburu perjuangan sia-sia
tetapi bersama merumahkan kejanggalan sebagai tabiat biasa
yang tidak membazirkan untung dengan kepalsuan berjela
tetapi bersama membesarkan kolam kesempatan
dari tiada menjadi ada, ada untuk semua
yang tidak menagih sanjung
tetapi meletakkan diri sebagai benteng juang
membina kesempatan dan menabur benih peluang
agar yang miskin berpindah dari rumah sengsaranya
mendirikan keyakinan pada segala yang masih samar
dan menetapkan tanda pada segala yang tersembunyi
rumah kehidupannya adalah pintu bakti dan jendela sumbangsih
pada yang sudah mendaki di menara keagungan
dari lidahnya lahir pesan keramat
segenap titik kemenanganmu lahir dari perjuangan kerdil temanmu
segenap relung hartamu kaukumpul dari gerak tangan dan kaki kerdil si kecil
segala kebangaan yang sedang kaulayangkan
bermula dari kerangka dan siratan tenaga si kerdil di kelilingmu
ah, setiap yang tiba menyentuh tangannya penuh sanjung
menjulang hormat segala relung bakti dan tasik bukti
bunga negara
tumbuh dari akar jatidiri
menyedut zat bangsa dan roh agamanya
sebagai mahkota bestari
memayung negeri
bunga negara
menguntumlah kerana ini negerimu
ini tanahmu
aku hanya menumpang teduh
di bawah kelopak kemakmuranmu
menjadi kuntum harapan rakyat
kala dukalara cahayanya memancar serbat kesegaran
memadamkan titik luka menetaskan garis sentosa
kala bahagia sinarnya memintal tali makmur
tenggelamlah kesangsian bangunlah pohon sentosa
tambatkan sauh kesegaran di segenap pelabuhan rasa
kala sepi geraknya muzik merdu mengalunkan seribu dengung
meratah kepayahan menindih kesempitan
segala yang rebah dan resah bangkit dengan gema bahagia
kala riuh derap kuntumnya melegakan kebingitan
mengembalikan segar semangat dan jernih sedar
tidak alpa atau manakah tanah asal dan air mula
inilah kuntum impian rakyat
di kampung di kota
di teluk di belantara
di tasik di sungai
di awan di laut dalam
berseri di segenap sukma
alangkah, kepayahan mengalir hilang
kesenangan merangkak tiba
bunga negara
yang tidak meletihkan akal memburu perjuangan sia-sia
tetapi bersama merumahkan kejanggalan sebagai tabiat biasa
yang tidak membazirkan untung dengan kepalsuan berjela
tetapi bersama membesarkan kolam kesempatan
dari tiada menjadi ada, ada untuk semua
yang tidak menagih sanjung
tetapi meletakkan diri sebagai benteng juang
membina kesempatan dan menabur benih peluang
agar yang miskin berpindah dari rumah sengsaranya
mendirikan keyakinan pada segala yang masih samar
dan menetapkan tanda pada segala yang tersembunyi
rumah kehidupannya adalah pintu bakti dan jendela sumbangsih
pada yang sudah mendaki di menara keagungan
dari lidahnya lahir pesan keramat
segenap titik kemenanganmu lahir dari perjuangan kerdil temanmu
segenap relung hartamu kaukumpul dari gerak tangan dan kaki kerdil si kecil
segala kebangaan yang sedang kaulayangkan
bermula dari kerangka dan siratan tenaga si kerdil di kelilingmu
ah, setiap yang tiba menyentuh tangannya penuh sanjung
menjulang hormat segala relung bakti dan tasik bukti
bunga negara
tumbuh dari akar jatidiri
menyedut zat bangsa dan roh agamanya
sebagai mahkota bestari
memayung negeri
bunga negara
menguntumlah kerana ini negerimu
ini tanahmu
aku hanya menumpang teduh
di bawah kelopak kemakmuranmu
Wednesday, September 9, 2009
matahari
-kepada pengundi manek urai
i.
senja itu mereka melihat matahari
berkilau dari celah pohon-pohon
matahari yang merangkak dari perdu langit
berjalan di celah-celah gelap senja
matahari yang tak pernah mereka tatap sebelum ini
senja itu mereka melihat cahaya
berkilau di mata redup tua yang berpuluh tahun berjuang
merubah tanah dan bukit
menukar warna ladang nasib
senja itu
matahari memasuki rumah mereka
dengan senyum dan wajah ria
senja itu sang perdana menteri
adalah matahari
bagi mereka yang sekian lama menanti
bilakah pula sang perdana menteri
dihadiahkan matahari kemenangan
apakah mereka masih menanti
atau sengaja melengahkan?
ii.
matahari
bersuaralah demi kebenaran
demi cahaya dan sinar tenteram
iii.
matahari nasib
masihkah bercahaya
dicengkam gelap senja
dibalut pekat malam
atau kita sengaja menunggu
segalanya menghilang
dan di dalam gelap malam
berdoa dan menanti
esok menjelmakah matahari?
iv.
atau kita memilih kegelapan
untuk mengajar makna cerah siang
ah, bangsaku begitu mudah congak dan hitungmu
i.
senja itu mereka melihat matahari
berkilau dari celah pohon-pohon
matahari yang merangkak dari perdu langit
berjalan di celah-celah gelap senja
matahari yang tak pernah mereka tatap sebelum ini
senja itu mereka melihat cahaya
berkilau di mata redup tua yang berpuluh tahun berjuang
merubah tanah dan bukit
menukar warna ladang nasib
senja itu
matahari memasuki rumah mereka
dengan senyum dan wajah ria
senja itu sang perdana menteri
adalah matahari
bagi mereka yang sekian lama menanti
bilakah pula sang perdana menteri
dihadiahkan matahari kemenangan
apakah mereka masih menanti
atau sengaja melengahkan?
ii.
matahari
bersuaralah demi kebenaran
demi cahaya dan sinar tenteram
iii.
matahari nasib
masihkah bercahaya
dicengkam gelap senja
dibalut pekat malam
atau kita sengaja menunggu
segalanya menghilang
dan di dalam gelap malam
berdoa dan menanti
esok menjelmakah matahari?
iv.
atau kita memilih kegelapan
untuk mengajar makna cerah siang
ah, bangsaku begitu mudah congak dan hitungmu
Saturday, April 4, 2009
jalan penuh liku
- kepada pejuang
jalan ini penuh liku
kenalilah lorong dan denai perjuangan
fahamilah makna dan sumpah perjuangan
hayatilah semangat dan roh perjuangan
jalan ini penuh liku
masih banyak menunggu dan menanti
di balik semak dan belukar masa depan
mereka yang bangga membesarkan keraguan
mereka yang lega membenihkan kebencian
mereka yang rajin membajak ketaksuban
mereka yang menggali parit kegagalan
menanti di lorong-lorong kesempatan
jalan ini penuh liku
untuk sampai ke rumah kemenangan
bukakanlah pintu kasih sayang
bukakanlah jendela simpati
sambutlah suara dan seru mereka yang jauh di bendang
mereka yang berpanas di lautan
mereka yang tak pernah berhenti berjuang
mereka yang tak pernah menyoal manakah hasil perjuangan
sebaliknya terus berjuang kerana
mereka telah jadikan perjuangan darah dan daging
kehidupan
dengarkanlah keluh dan ratap
tawa dan senda mereka
kerana di situlah bermulanya
perjuangan nasib bangsa
jalan ini penuh liku
dan pastinya ramai yang datang membawa mangkuk harapan
minta diisi dengan keberanian dan keadilan
minta dipenuh dengan keikhlasan dan kesepakatan
mereka menunggu dan menunggu
isilah mangkuk harapan dengan
bubur dan sayur kemuliaan
mereka pasti senyum bahagia
mencari jalan pulang
jalan ini penuh liku
peganglah hati dan suara mereka
setiap kali memegang tangan dan bertanya khabar
usapkan keyakinan dan belaikan semangat
mereka pasti akan berlari dan terus berlari
memikul perjuangan ini
seia sederap bersama
jalan ini penuh liku
jangan biarkan mereka yang pernah berjasa
sendirian meratapi kesunyian
sebaliknya kongsikanlah kesunyian mereka
dengan cerita bahagia tentang wangi sejarah mereka
kerana apapun yang terjadi mereka adalah pejuang
dengan lakaran peta bakti yang ditinggalkan
jalan ini penuh liku
mara melangkah menuju yang satu
-selamat berjuang untuk semua di bukit gantang, bukit selambau dan batang ai
jalan ini penuh liku tetapi kita masih mampu
selamat kembali tun dr mahathir dan tun dr siti hasmah
jalan ini penuh liku
kenalilah lorong dan denai perjuangan
fahamilah makna dan sumpah perjuangan
hayatilah semangat dan roh perjuangan
jalan ini penuh liku
masih banyak menunggu dan menanti
di balik semak dan belukar masa depan
mereka yang bangga membesarkan keraguan
mereka yang lega membenihkan kebencian
mereka yang rajin membajak ketaksuban
mereka yang menggali parit kegagalan
menanti di lorong-lorong kesempatan
jalan ini penuh liku
untuk sampai ke rumah kemenangan
bukakanlah pintu kasih sayang
bukakanlah jendela simpati
sambutlah suara dan seru mereka yang jauh di bendang
mereka yang berpanas di lautan
mereka yang tak pernah berhenti berjuang
mereka yang tak pernah menyoal manakah hasil perjuangan
sebaliknya terus berjuang kerana
mereka telah jadikan perjuangan darah dan daging
kehidupan
dengarkanlah keluh dan ratap
tawa dan senda mereka
kerana di situlah bermulanya
perjuangan nasib bangsa
jalan ini penuh liku
dan pastinya ramai yang datang membawa mangkuk harapan
minta diisi dengan keberanian dan keadilan
minta dipenuh dengan keikhlasan dan kesepakatan
mereka menunggu dan menunggu
isilah mangkuk harapan dengan
bubur dan sayur kemuliaan
mereka pasti senyum bahagia
mencari jalan pulang
jalan ini penuh liku
peganglah hati dan suara mereka
setiap kali memegang tangan dan bertanya khabar
usapkan keyakinan dan belaikan semangat
mereka pasti akan berlari dan terus berlari
memikul perjuangan ini
seia sederap bersama
jalan ini penuh liku
jangan biarkan mereka yang pernah berjasa
sendirian meratapi kesunyian
sebaliknya kongsikanlah kesunyian mereka
dengan cerita bahagia tentang wangi sejarah mereka
kerana apapun yang terjadi mereka adalah pejuang
dengan lakaran peta bakti yang ditinggalkan
jalan ini penuh liku
mara melangkah menuju yang satu
-selamat berjuang untuk semua di bukit gantang, bukit selambau dan batang ai
jalan ini penuh liku tetapi kita masih mampu
selamat kembali tun dr mahathir dan tun dr siti hasmah
Subscribe to:
Posts (Atom)



